Inquirers
Terampil menggali dan meneliti, mandiri dalam belajar, serta menikmati proses belajar sebagai pembelajar sepanjang hayat.
Sejarah, visi misi, kurikulum, profil siswa, guru, jenjang belajar, kegiatan, program pengalaman, hingga fasilitas SADe dalam satu halaman.
Sekolah Alam Depok didirikan dari keinginan mengubah paradigma pendidikan yang sering menjauhkan peserta didik dari tujuan sejatinya. Dengan pandangan bahwa manusia dipersiapkan menjadi khalifah atau pemimpin di muka bumi, proses pendidikan diletakkan dalam hubungan yang dekat dengan alam—sesuatu yang kelak akan dipimpinnya.
Konsep sekolah alam digagas oleh Lendo Novo. Gagasan itu kemudian diwujudkan menjadi model sekolah yang menjadikan alam sebagai sumber ilmu dan ruang yang dapat dikelola bersama peserta didik. Dalam konsep ini, kualitas pendidikan terutama ditentukan oleh kualitas guru, metode terapannya, dan kurikulum yang visioner.


Menjadi institusi pendidikan berbasis alam dan budaya untuk mempersiapkan generasi tangguh berakhlak mulia.Misi
Memberikan dasar akhlak Islami dan kerangka berpikir holistik.
Memberikan dasar untuk mengembangkan pengetahuan dan keahlian yang mendorong mentalitas pemecah masalah.
Memenuhi kebutuhan belajar secara individual serta berbagai gaya pembelajaran.
Menyampaikan kurikulum nasional Indonesia yang diperkaya dengan beragam teknik dan pendekatan mengajar.
Profil siswa SADe menekankan kemampuan belajar, berpikir, berkomunikasi, bersikap, dan bertanggung jawab terhadap diri, orang lain, serta lingkungan.
Terampil menggali dan meneliti, mandiri dalam belajar, serta menikmati proses belajar sebagai pembelajar sepanjang hayat.
Mengeksplorasi konsep, ide, serta isu lokal dan global, dengan pemahaman mendalam dan lintas disiplin.
Berinisiatif menggunakan keterampilan berpikir kritis dan kreatif untuk mengenali masalah, menalar, dan mengambil keputusan etis.
Memahami dan mengekspresikan ide serta informasi dengan percaya diri, kreatif, dan mampu bekerja sama secara efektif.
Menghargai budaya, sejarah pribadi, perspektif, nilai, dan tradisi orang lain serta bersedia tumbuh dari pengalaman.
Berani menghadapi situasi baru dan ketidakpastian, berpikir maju, mengeksplorasi cara, ide, dan strategi baru.
Bertindak dengan integritas dan kejujuran, menghormati manusia dan komunitas, serta bertanggung jawab atas tindakan dan konsekuensinya.
Menunjukkan simpati, perhatian, penghormatan terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain, serta komitmen membuat perubahan positif.
Memahami pentingnya keseimbangan berpikir, fisik, dan emosi bagi kebaikan diri sendiri dan orang lain.
Merefleksikan hasil belajar dan pengalaman, memahami kekuatan serta keterbatasan diri untuk mendukung perkembangan berikutnya.
Pembelajaran di sekolah alam dominan dimulai dari pengalaman. Dari pengalaman tersebut, siswa bersama fasilitator merumuskan materi yang dipelajari. Kegiatan banyak berlangsung di luar ruang dan memaksimalkan gaya belajar visual, auditori, serta kinestetik.

Konsep sekolah alam menempatkan kualitas guru, metode belajar yang tepat, dan kurikulum visioner sebagai penentu penting kualitas pendidikan. Guru-guru SADe didorong menjadi pribadi yang gemar belajar.
SADe merupakan institusi pendidikan mitra orang tua dan menggunakan tahap perkembangan manusia sebagai landasan dasar pengembangan kurikulum.
Fondasi nilai, ruhiyah, integritas, kepedulian, dan karakter.
Rasa ingin tahu, penalaran, analisis, pemecahan masalah, dan pemahaman dunia.
Kemandirian, keberanian, kerjasama, tanggung jawab, dan kontribusi.
Program SADe berkembang dari membangun fondasi kemandirian hingga kemampuan berpikir abstrak, identitas, dan kontribusi sosial.

Menekankan rangsangan pertumbuhan jasmani melalui motorik kasar dan halus, serta rohani melalui keterampilan bina diri, kemandirian, sosialisasi, dan rutinitas yang membantu kesiapan memasuki pendidikan berikutnya.

Kelas 1–3 menekankan pembelajaran kontekstual dan objek nyata. Kelas 4–6 mulai mengembangkan konsep abstrak tanpa meninggalkan fondasi konkret, serta kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah.

Masa remaja diarahkan pada kemandirian, identitas, pemikiran logis, abstrak, dan idealistis, pemahaman konsep diri dan agama, serta kemampuan berkontribusi terhadap alam semesta.
Kegiatan rutin dan special events menjadi ruang untuk menunjukkan pemahaman, membangun karakter, melatih leadership, literasi, sains, budaya, dan kepedulian lingkungan.

Morning talk, sholat dhuha, tahsin dan tahfidz, aktivitas kelas, snack time, perpustakaan, scouting, gardening, makan siang, sholat zuhur, istirahat, ekskul, dan tutup kelas sesuai jenjang.

Kegiatan untuk mempresentasikan tugas unjuk kemampuan siswa sesuai levelnya.

Pembiasaan budaya literasi untuk menumbuhkan budi pekerti serta kemampuan analitis, kritis, dan reflektif.

Pameran karya pembelajaran sains, Tugas Unjuk Pemahaman, apresiasi karya, dan latihan komunikasi dengan publik.

Mengenalkan keragaman budaya Indonesia dan menjadi wadah kreativitas siswa melalui penampilan.

Hari jadi SADe sekaligus refleksi tentang sampah, bercocok tanam, ketahanan pangan, serta kepedulian pada hewan dan tumbuhan.

Wadah kurikulum leadership yang memadukan lifeskill, Islamika, outbound, wawasan lingkungan, kompetisi sehat, kepedulian, dan kekompakan tim.

Program fieldtrip konservasi yang mengintegrasikan subjek pembelajaran, karakter, dan pemahaman pelestarian lingkungan. Company profile mencatat 30 fieldtrip minor, 3 fieldtrip mayor, dan 2 special event lingkungan hidup sepanjang tahun.

Perkemahan yang melatih kemandirian, akhlak, keberanian, kepemimpinan, trekking, jungle cooking, navigasi, outbound, fun games, jelajah malam, bivak, dan mentoring Islamika.

Kegiatan kelas 6 yang melibatkan siswa dalam perencanaan, persiapan, manajemen perjalanan, kebersamaan, trekking, dan kemandirian sebelum menutup fase SD.

Kegiatan ekstrakurikuler ditawarkan di luar jam belajar, terutama bagi siswa SD, berdasarkan tahap perkembangan anak. Tujuannya membina minat, mengembangkan kemampuan bersosialisasi, mengeksplorasi bidang tertentu, dan menunjang pembelajaran melalui kegiatan nonformal. Pembimbing dapat berasal dari guru SADe maupun tenaga profesional.
Fisik sekolah dipahami bukan hanya sebagai bangunan, tetapi sebagai sarana yang membantu proses belajar dan enrichment activity siswa.

Little Pond, misalnya, menjadi tempat mengamati ekosistem air dan metamorfosis secara langsung.

Fenomena yang ditemui siswa di lingkungan sekolah diangkat menjadi media pembelajaran dan sumber pengetahuan.

Mendukung perkembangan fisik, koordinasi, keseimbangan, kemampuan sosial, kreativitas, imajinasi, kepercayaan diri, dan pemecahan masalah.